Jumat, 25 Januari 2013

Surat Terbuka Kepada Mantan Santri Pondok Pesantren Almuslimun Yang Sempat Lulus Maupun Yang Berhenti

Kemana Harapan Kita Dulu

Saudaraku Seiman, Mimpi telah kita wujudkan, canda tawa telah kita ciptakan, perselisihan, ketegangan dan gurauan telah menghampiri senantiasa kehidupan kita, saat kita bersama, saat kita terkumpul dalam satu wadah yang diberi nama Kiayi kita Syekh Haji Kusairin Imansya Bin Imansyah Sholeh sebagai Pondok pesantren almuslimun, Bukan Sekedar nama yang terlintas lewat dibenak beliau, melainkan nama yang telah matang beliau berikan, melalui pemikiran, istikharah dan konsultasi bersama pembesar, pemuka dan jama'ah majlis beliau disini.
Saudaraku kita bertekad dengan satu tujuan menghidupkan pondok ini dengan hati dan pemikiran yang mana telah ada banyak surah didalam Alqur'an yang berujung Afala Tatafakkarun, agar kita bisa mengembangkan fikiran kita, mempergunakan Aqal sebagaimana seharusnya Allah Telah Memberikannya kepada kita.
Ingatlah saudaraku, sebuah cita cita,  tentang apapun cobaan dan godaan dan siapapun yang membawanya, kita tetap membawa nama pondok pesantren Almuslimun.
Guru kita telah tiada, kita akan diuji dengan ribuan ujian, sampai kapan kita akan tetap membawa dan membesarkan nama beliau, atau bertahan terhadap apa yang beliau ditinggalkan.
ingatlah akan ada dimana dua buah gunung yang teramat baik dimata manusia, yang pertama diisi oleh seorang ulama dan yang kedua telah ditinggalkan seorang ulama dengan meninggalkan anak cucu dan sebuah wadah. dan akan ada sebuah banjir besar dan orang2 berfikir bahwa gunung yang diisi ulama akan selamat sedangkan yang sudah ditinggalkan ulama akan tenggelam, sehingga orang berbondong mencari keselamatan pada gunung tersebut dan ternyata akan tenggelam.
dan gunung yang telah ditinggal ulama lah yang akan selamat.
Kita punya mimpi besar disini dengan diisi ribuan penuntut ilmu, masih adakah impian tersebut saudaraku, masih adakan harapan tersebut? atau telah kita pindahkan pada tempat baru yang mana engkau tidak punya harapan apapun disitu melainkan kalian yang diharapkan ada.
Saudaraku, disini aku tertinggal sendiri untuk mewujudkan harapan harapan itu, harapan kita, mimpi mimpi kita bahkan tak satupun terdengar suara untuk mewujudkan itu, melainkan suaraku sendiri, aku tak bisa lagi tertawa terbahak jika ingin mengungkapkan mimpi2 itu. jika kalian tak sengaja membaca surat ini, kalian akan tahu inilah ungkapan hatiku, aku tidak mengeluh mengemban tugas ini melainkan aku ingin mimpi dan harapan kalian bangkit dimanapun kalian berada, jika kalian berfikir tentang masa depan kita dulu, akankah perpecahan akan terbit justru dari dalam diri kita sendiri. dalam mimpi dan dan pemikiran kalian dulu.
disini ribuan kenangan tercipta, tempat ini telah membawa kita naik satu martabat disisi ridho Allah dan Rasulnya, dimana tempat kalian pertama kali diajarkan mengenal Allah.
Saudaraku, kaliah semua telah tiada, mimpi2 kalian telah hilang suara kalian seolah tak lagi terlihat disini. kemana kalian pergi.
Jika kalian melihat berfikir ini adalah tulisan dari orang yang tak seharusnya punya apa2, jangan kau hiraukan itu, karena aku disini meyampaikan tentang mimpi kita, tentang harapan kita dan tentang masa depan kita.
aku disini tidak membawa apapun yang aku peroleh didunia ini melainkan apa yang pernah aku peroleh disini. Aku hanya ingin mencoba membangkitkan harapan kita dulu.Ingatkah tentang canda kita yang menginginkan ada ribuan santri disini, ada ribuan penuntut ilmu disini,.Masih ingatkah saudaraku, masih sadarkah kalian bahwa kita mempunyai seorang guru seorang Aulia Allah, yang bisa kapan saja membimbing anak beliau menuju jalan Allah, atau memang kalian sudah tidak percaya lagi akan kewalian beliau saudaraku. ataukah memang sudah tak ada hati kalian walau untuk mengingatnya saudarak, luntur atau hilangkah semangat semangat kita dulu.
Saudaraku, tempat ini masih seperti dulu, masih seperti saat kalian datang kesini, masih seperti saat kau tertawa dan menangis disini, bahkan masih seperti saat kau jatu cinta disini. Tapi Semangat Kalian Telah hilang, bolehkah aku menggali semangat kalian itu lagi, Bolehkah aku menggemakan semangat itu lagi. Aku hanyalah seorang santri paling bodoh disini, aku adalah seorang yang paling jahat disini, saat kita masih menjadi kesatuan yang kokoh, bolehkanh aku memanggil kalian walau hanya sekedar melihat tempat kita makan dulu, semua masih sama saudaraku, namun sekarang hanya diisi oleh tumpukan debu tak terurus, sudikah kalian membantuku walau hanya untuk membersihkan debu itu.Ayolah Saudaraku, Kita satukan kekuatan kita seperti dulu, kita buat amarah saat orang menginjak kita, jangan kita diam melihat semua beban itu. jangan kau biarkan kami yang lemah menghadipinya tanpa ada bantuan. Marilah kawan, bukan untuk ku, bukan untuk ustadz2 kita, bukan untuk anak dan keluarga syekh kita, tapi untuk syekh kita dan MIMPI kita dulu, mari kita wujudkan mimpi kita dulu, agar orang lain tidak menertawakan mimpi kita itu. tapi orang lain juga ikut membantu kita.Ingat Saudaraku! Marilah Kita Wujudkan mimpi dan harapan kita itu. Disini.

Berita Seru Pondok Pesantren